Senin, 16 Juni 2014

Tugas 3 Bahasa Inggris Bisnis 2 : Something we should or shouldn't do and can or can't do

   Library
You are allowed to read the books in the library.
You are not allowed to bring home library books without the knowledge of board books in the library.
You are not expected to interfere with another person who was reading a book in the library.
You are expected to return the book in its place.

            Museum
You are allowed to look at the fossil in the museum.
You are not allowed to touch the objects existing history in the museum.
You are expected to abide by the rules that exist in the museum.
You are not expected to throw litter.

       Restaurant
You are allowed to use the facilities available in the restaurant.
You are not allowed to smoke in restaurants.
You are supposed order anything on the menu at the restaurant.
You are not supposed to leave the restaurant before paying.

  Tram
You are allowed to use the gadgets in the tram.
You are not allowed to bring your pet.
You are expected to provide seating for pregnant women.
You are not expected to sit in the priority seats.

 Park
You are allowed to play with the kids and your family in the park.
You are not allowed to damage the existing public facilities in the park.
You are supposed maintain cleanliness in the park.
You are not supposed to pick flowers in the garden.


Minggu, 04 Mei 2014


I.       In the following sentences supply the articles (a, an or the) if they are necessary. If no article is necessary, write Ø.
1.     Jason’s father bought him a bicycle that he had wanted for his birthday.
2.     The statue of Liberty was a gift of friendship from Ø France to The United States.
3.     Rita is studying an English and Ø math this semester.
4.     The judged asked a witness to tell the truth.
5.     A big books on the table are for my history class.
6.     When you go to the store, please buy a bottle of Ø chocolate milk and Ø dozen orange.
7.     There are only a seats left for Ø tonight’s musical at Ø University.
8.     What did you eat for Ø breakfast this morning ?
9.     Rita plays Ø violin and her sister plays a guitar.
10. The chair that you are sitting is broken.

II. Fill in the blanks with the appropriate form of other.
1.     This pen isn’t working. Please give me another.
2.     If you’re still thirsty, I’ll make another pot of coffee.
3.     This dictionary has a page missing. Please give me another.
4.     He doesn’t need those books. He needs the others.
5.     There are thirty people in the room. Twenty are from Latin America and the others are from otherscountries.
6.     Six people are in the store. Two were buying meat. Others was looking at magazines. Others was eating a candy bar. The others were walking around looking for more food.
7.     This glass of milk is sour. Another glass of milk is sour too.
8.     The army was practicing its drills. One group was doing artillery practice. Another was marching; another was at attention; and the other was practicing combat tactics.
9.     There are seven students from Japan. Others are from Iran, and the others are from others places.
10. We looked at cars today. The first two we far too expensive, but the other ones were reasonably priced.

Kamis, 06 Februari 2014

BAB 10 BAHASA INDONESIA : Kutipan Abstrak dan Daftar Pustaka


ABSTRAK PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR



    Pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga siswa didik menjadi faham (domein kognitif) tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan (domein afektif) nilai yang baik dan mau melakukannya (domein psikomotor). Seperti kata Aristotle, karakter itu erat kaitannya dengan “habit” atau kebiasaan yang terus menerus dipraktekkan dan dilakukan. Ratna Megawangi, sebagai pencetus pendidikan karekter di Indonesia telah menyusun karakter mulia yang selayaknya diajarkan kepada anak, yang kemudian disebut sebagai 9 pilar yaitu : Cinta Tuhan dan kebenaran (love Allah, trust, reverence, loyalty), Tanggungjawab, kedisiplinan, dan kemandirian (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness), Amanah (trustworthiness, reliability, honesty), Hormat dan santun (respect, courtessy, obedience), Kasih saying, kepedulian, dan kerjasama (love, compassion, caring, empathy, generousity, moderation, cooperation), Percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah (confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage, determination and enthusiasm), Keadilan dan kepemimpinan (justice, fairness, mercy, leadership), Baik dan rendah hati (kindness, friendliness, humility, modesty).Toleransi dan cinta damai (tolerance, flexibility, peacefulness, unity). Selanjutnya, hal yang harus digarisbawahi dari multikulturalisme dalam pendidikan adalah identitas, keterbukaan, diversitas budaya dan transformasi social. Dengan demikian dalam pendidikan multikultur, identitas-identitas tersebut diasah melalui interaksi, baik internal budaya (self critic) maupun eksternal budaya. Oleh karena itu, identitas local atau budaya local merupakan muatan yang harus ada dalam pendidikan multikultur.
 
Saran penelitian diharapkan dengan diterapkannya pendidikan karakter di SD dapat membentuk pribadi siswa yang unggul dalam berperilaku dan memiliki kepribadian yang sesuai dengan moral-moral pancasila dan agama. Untuk itu penerapan pendidikan karakter di SD sangat diperlukan, sehingga kita dapat menjadi orang yang bermoral dan berpancasila.
Kata kunci : Pendidikan Karakter, Nilai-nilai Pendidikan Karakter, Multikulturalisme Pendidikan.




DAFTAR PUSTAKA

Megawangi, Ratna. 2004. Pendidikan Karakter. Jakarta: Indonesia Heritage Fondation.
 

http://doddywir.blogspot.com/pentingnya-pendidikan-karakter.html
(diakses tanggal 27 Desember 2012).
 

http://edukasi.kompasiana.com/peranan-guru-dalam-pengembangan-pendidikan-karakter-di-sekolah-dasar (diakses tanggal 27 Desember 2012).
 

http://ppm.lppm.upi.edu/detail/425/pendidikan-karakter-siswa-sekolah-dasar-dalam-multikulturalisme-pendidikan
 

Tugas 9 Bahasa Indonesia : BAB PENDAHULUAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR

 
 
PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
   
   Sebuah peradaban akan menurun apabila terjadi demoralisasi pada masyarakatnya. Banyak pakar, filsuf, dan orang-orang bijak yang mengatakan bahwa faktor moral (akhlak) adalah hal utama yang harus dibangun terlebih dahulu agar bisa membangun sebuah masyarakat yang tertib, aman dan sejahtera. Salah satu kewajiban utama yang harus dijalankan oleh orang tua kepada anak-anak kita. Nilai-nilai moral kepada anak-anak kita. Nilai-nilai moral yang ditanamkan akan membentuk karakter (akhlak mulia) yang merupakan pondasi penting bagi terbentuknya sebuah tatanan masyarakat yang beradab dan sejahtera.
   Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Banyak pakar mengatakan bahwa kegagalan penanaman karakter sejak usia dini, akan membentuk pribadi yang bermasalah dimasa dewasanya kelak. Selain itu, menanamkan moral kepada generasi muda adalah usaha yang strategis. Oleh karena itu penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin kepada anak-anak adalah kunci utama untuk membangun bangsa.

1.2. Rumusan Masalah
Beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini sebagai batasan dalam pembahasan. Adapun beberapa masalah yang akan dibahas dalam karya tulis ini antara lain:
1. Apa pengertian pendidikan karakter itu?
2. Bagaimana pendidikan karakter di sekolah dasar itu?
3. Apa pentingnya pendidikan karakter di sekolah dasar?
4. Apa prinsip pendidikan karakter di sekolah dasar?
5. Apa dampak pendidikan karakter di sekolah dasar?
6. Bagaimana peran guru dalam pendidikan karakter di sekolah dasar?

1.3. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penyusunan makalah ini bertujuan untuk:
1. Menjelaskan pengertian pendidikan karakter.
2. Menjelaskan bagaimana pendidikan karakter disekolah dasar.
3. Menjelaskan tentang pentingnya pendidikan karakter.
4. Menjelaskan tentang prinsip pendidikan karakter di sekolah dasar.
5. Menjelaskan tentang dampak pendidikan karakter di sekolah dasar.
6. Menjelaskan peran guru dalam pendidikan karakter di sekolah dasar.

BAB II
  RUMUSAN MASALAH

2.1. Pengertian Pendidikan Karakter
     Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat jadi beradab. Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturisasi dan sosialisasi). Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itu mencakup sekurang-kurangnya tiga hal paling mendasar, yaitu:
1. Afektif yang tercermin pada kualitas keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis.
2. Kognitif yang tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Psikomotorik yang tercermin pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.

2.2. Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar
   Faktor kelurga sangat berperan dalam membentuk karakter anak. Namun kematangan emosi social ini selanjutnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekolah sejak usia dini sampai usia remaja. Bahkan menurut Daniel Goleman, banyaknya orang tua yang gagal dalam mendidik anak-anak, kematangan, emosi sosial anak dapat dikoreksi dengan memberikan latihan pendidikan karakter kepada anak-anak di sekolah terutama sejak usia dini.
   Sekolah adalah tempat yang strategis untuk pendidikan karakter karena anak-anak dari semua lapisan akan mengenyam pendidikan di sekolah. Selain itu anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah, sehingga apa yang didapatkannya di sekolah akan mempengaruhi pembentukan karakternya.
    
2.3. Pentingnya Pendidikan Karakter di Usia Sekolah Dasar
   Pendidikan karakter pada anak usia sekolah dasar, dewasa ini sangat diperlukan dikarenakan saat ini Bangsa Indonesia sedang mengalami krisis karakter dalam diri anak bangsa. Karakter di sini adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, bepikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan tersebut berupa Sejumlah nilai moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, hormat pada orang lain, disiplin, mandiri, kerja keras, kreatif.
   Pendidikan karakter di nilai sangat penting untuk di mulai pada anak usia dini karena pendidikan karakter adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur. Nilai-nilai positif dan yang seharusnya dimiliki seseorang menurut ajaran budi pekerti yang luhur adalah amal saleh, amanah, antisipatif, baik sangka, bekerja keras, beradab, berani berbuat benar, berani memikul resiko, berdisiplin, berhati lapang, berhati lembut, beriman dan bertaqwa, berinisiatif, berkemauan keras, berkepribadian, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersifat konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdas, cermat, demokratis, dinamis, efisien, empati, gigih, hemat, ikhlas, jujur, kesatria, komitmen, kooperatif, kosmopolitan (mendunia), kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, manusiawi, mawas diri, mencintai ilmu

2.4. Prinsip Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar
   Langkah terakhir adalah dengan memperhatikan prinsip-prinsip penerapan pendidikan karakter. Character Education Quality Standards merekomendaikan sebelas prinsip untuk mewujudkan pendidikan karakter yang efektif, sebagai berikut:
1. Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter.
2. Mengidentifikasikan karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan dan perilaku.
3. Mengguanakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter.
4. Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian.
5. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan perilaku yang baik.
6. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua siswa, membangun karakter mereka dan membantu mereka untuk sukses.

2.5. Dampak Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar
    Beberapa penelitian bermunculan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership.
Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri-St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

2.6. Peran Guru dalam Pengembangan Karakter di Sekolah Dasar
    Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang kemudian diimplementasikan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), merupakan kurikulum yang dirancang untuk memberikan peluang seluas-luasnya bagi sekolah dan tenaga pendidik untuk melakukan praktik-praktik pendidikan dalam rangka mengembangkan semua potensi yang dimiliki peserta didik, baik melalui proses pembelajaran di kelas maupun melalui program pengembangan diri (ekstrakurikuler). Pengembangan potensi peserta didik tersebut dimaksudkan untuk memantapkan kesadaran diri tentang kemampuan atau life skill terutama kemampuan personal (personal skill) yang dimilikinya. Termasuk dalam hal ini adalah pengembangan potensi peserta didik yang berhubungan dengan karakter dirinya.